Jumat, 16 Juni 2017

Ujian yang Mendewasakan



Menjalani hari demi hari, bukan peristiwa manis saja yang akan kita temui, namun seringkali hal-hal pahit mengampiri di luar batas kemampuan kita dan tanpa diduga. Betapa kita sudah berusaha menghindarinya, namun kuasa bukan berada di tangan kita. Seperti halnya saya yang harus merelakan  kepergian anak yang tiba-tiba tanggal 25 November 2016 lalu. Saat itu rasanya hidup sudah berakhir detik itu juga. Ingin rasanya nafas terhenti sebelum segala proses pengurusan almarhum dimulai hingga pemakaman. Namun nyatanya Tuhan tidak menghendaki itu, bahkan saat itu saya masih bisa tegak menerima para tamu dengan senyuman, saya tidak pingsan, tidak meraung atau semacamnya,  sampai ada bisik-bisik mampir ke telinga.
“Kok masih bisa senyum, ya?” Bisik ibu yang satu ke telinga seorang ibu di sebelahnya.
“Belum rasa aja, coba kalau kita semua udah pulang, baru deh kerasa kehilangan,” sahut ibu yang dibisiki. Mereka tidak tahu saja kalau saya sudah 2 kali ganti pakaian karena basah oleh  air mata sebelum mereka kemari.
Namun nyatanya pernyataan ibu itu benar, kesedihan, kepedihan, rasa sesak di dada tiba-tiba mengoyak saat rumah sudah sepi, hanya tinggal kami yang termangu masih tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Hanya satu yang saya minta saat itu pada Tuhan yaitu supaya saya masih diberi kewarasan, karena kehilangan anak sama artinya seperti kehilangan nyawa sendiri, separuh jiwa serasa pergi. Dan saat malam tiba adalah saat di mana kesedihan itu seolah mencengkeram tanpa ampun. Saya tidak bisa lagi memberinya ASI sambil memeluk dan sesekali menciumnya. Saya tidak bisa lagi mendengar tangisannya. Pada akhirnya malam terasa begitu panjang karena kantuk tak juga menyapa. 

Muhammad Al-Fateh yang dirindui
sepasang mata bening yang menggemaskan
Sehari dua hari saya tak sanggup untuk makan, bahkan hanya secuil kue saja saya tolak, dan hal itu berlangsung sampai seminggu penuh. Hanya air putih yang sanggup melewati kerongkongan. Anehnya ASI masih saja penuh hingga mendesak-desak keluar, merembes, hingga sehari bisa beberapa kali ganti baju karena basah oleh ASI, dan itu semakin membuat dada sesak. Hanya minum saja ASI saya begitu deras, bagaimana kalau saya sanggup makan? Namun akhirnya kesehatan saya menurun, badan lemas dan virus penyakit begitu mudah menghampiri. Pekerjaan rumah tak lagi sanggup saya kerjakan. Dalam kondisi terbaring itulah keinginan membaca buku begitu menggebu untuk mengusir kebosanan. Saya membaca buku-buku anak TK sampai buku tebal-tebal. Di sana saya belajar rukun iman lagi, belajar hakikat hidup lagi. Mempelajari ilmu kehidupan yang sudah banyak saya lupakan. Saya menangis lagi saat mendengar nasyid tentang kasih sayang Tuhan yang disampaikan melalui kesusahan. Tangisan kali ini bukan meratapi kepergian anak saya, melainkan tangisan keinsyafan, tangisan penyesalan karena telah ‘sejenak’ pergi meninggalkan Tuhan, padahal Tuhan sedang memanggil dengan kasih sayang-Nya melalui ujian kesusahan.
Pada akhirnya saya akur dengan kenyataan hidup yang harus saya jalani, saya paksakan untuk makan, masih banyak orang-orang di sekeliling saya yang harus saya perhatikan, masih harus saya urusi dan merekapun sayang pada saya. Suami saya juga memberikan multivitamin-mineral Theragran-M untuk mempercepat pemulihan kondisi tubuh saya. Alhamdulillah kondisi saya pulih dalam waktu singkat,padahal saya baru makan beberapa potong buah saja,  Theragran-M ternyata benar-benar vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan.  Sejak saat itu saya bisa beraktifitas kembali seperti biasa. Memangnya sedihnya sudah hilang? Tentu saja masih, rasa sedih, rindu  dan pengharapan datang silih berganti. Apalagi saat membereskan perlengkapan almarhum, tak bisa diungkapkan rasanya, bahkan hanya melihat panci yang selalu dipakai untuk merebus air mandinya saja hati serasa remuk lagi, air mata tak terbendug lagi. Lebih-lebih kalau ASI sudah penuh, merembes dan membasahi baju, rasa penyesalan menyeruak kembali, dan ASI saya baru mengering sampai sebulan setelah kepergiannya.
Sebelum 40 hari dirundung duka, saya menawarkan diri untuk mengajar di Rumah Amal Anak Kesayangan di Sentul Bogor. Saya berharap aktifitas saya di sini akan memberi semangat positif pada diri saya selain ‘kesadaran’ yang telah saya dapat tentang penerimaan pada takdir Tuhan. Ternyata menghibur anak-anak mampu menghibur diri saya sendiri. Berbagi cerita-cerita teladan pada jiwa-jiwa yang masih suci itu, diselingi celetukan-celetukan naïf dari bibir-bibir mereka, mampu meminggirkan kedukaan saya. 



anak-anak adalah cahaya mata

keceriaan mereka menularkan semangat
Sekarang aktifitas saya sudah berjalan normal seperti sebelum saya melahirkan, mengurus rumah, anak-anak suami, mengajar dan masih bercengkarama pula dengan anak-anak di Rumah Amal Anak Kesayangan. Seringkali saya dibuat malu oleh mereka, karena kesusahan mereka jauh lebih besar daripada ujian yang Tuhan beri pada saya namun mereka masih bisa menjalani hidup dengan ceria. Mereka masih anak-anak, namun kebahagiaan masa kanak-kanak terenggut oleh keadaan. Ajaibnya tidak ada duka di wajah-wajah bening mereka, meskipun mereka ada yang yatim atau piatu dan terhimpit oleh kemiskinan.
"Kesusahan akan membuat kita lebih sensitif dengan pnderitaan orang," ujar teman saya. Ya, saya akur karena kita akan lebih empati, lebih simpati pada kesulitan orang lain jika kita sudah pernah merasakannya. Bukan berarti orang yang tidak pernah merasaan kesusahan tidak bisa berempati pada orang lain, namun dengan adanya ujian kesusahan itu artinya adalah pendewasaan. Belum tentu yang usianya dewasa jiwanya juga sudah dewasa. Dengan adanya kesadaran untuk apa kita hidup, maka ujian-ujian yang datang,baik ujian kesenangan maupun ujian kesusahan semuanya bisa mematangkan jiwa kita, mendewasakan kepribadian kita, hingga kita bisa lebih bijak dalam menyikapi hidup.
Kalau aktifitas sudah padat, seringkali saya lupa dengan jadwal makan dan asupan gizi yang baik, hingga penyakit dengan mudah menghampiri, namun sekarang saya tidak lupa untuk selalu sedia Theragran-M karena selain sudah jelas halal, dibuktikan dengan logo halal MUI di kemasan luarnya, Theragran-M juga terbukti menjadi vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit.
Theragran-M yang selalu tersedia

 Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.
 
 

Senin, 29 Mei 2017

Kehangatan di Perumahan Paspampres



Saat awal pindah ke Perumahan Paspampres Cileungsi pada April 2001 lalu, ada kekhawatiran yang besar dalam diri saya mengenai pergaulan dengan warganya yang mayoritas berisi anggota keluarga Paspampres. Kekhawatiran saya beralasan karena sejak kecil sudah sering disuguhi cerita yang ‘seram-seram’ dari komplek TNI secara umum.
Namun kala kami baru beberapa menit melepas penat setelah perjalanan dari Bandung ke Cileungsi, beberapa ibu-ibu mengetuk pintu untuk menyapa dan berkenalan. Alangkah lega dan bahagianya saya karena kekhawatiran saya tak terbukti. Bukan sekedar menyapa, ibu-ibu yang kesemuanya adalah istri anggota Paspampres itu juga menyambut amat baik kehadiran kami di situ.
“Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan minta tolong sama kita-kita,” ujar ibu yang terlihat lebih dewasa usianya.
“Iya, ketok pintu aja, pasti kami buka biarpun tengah malam,” sahut yang lain. Tawa kamipun berderai. Leganya saya karena di hari pertama sudah disambut dengan hangat.
Beberapa minggu menjalani aktifitas di perumahan itu, membuat saya hapal dengan rutinitas ibu-ibunya. Pagi-pagi setelah Subuh, kurang lebih pukul 5 setelah truk atau bis jemputan berangkat, sebagian kecil dari kami akan langsung meluncur ke tukang sayur yang lebih akrab disapa bude sayur. Saya memilih belanja pagi karena anak saya yang masih balita sedang lelap, sehingga saya bisa bebas melakukan aktifitas domestik. Sekitar pukul sembilanan pagi, beberapa ibu-ibu akan sudah berjejer di kursi bambu panjang yang entah sudah ada di sana sejak kapan, kalau tidak beberapa ngobrol di teras salah satu rumah. Namun kebiasaan ini berubah seiring bertambahnya usia anak, anak-anak yang mulai sekolah akan diantar ibunya sedangkan yang sudah besar sedikit sudah tak lagi diantar, sehinga ada pergeseran ibu-ibu yang melepas penat di kursi bambu itu. Saya sendiri memilih tidak tiap hari menjalani rutinitas itu, karena ada kegiatan lain yang lebih banyak menyita waktu, seperti menulis, membaca, merajut atau menjahit pakaian anak dan yang pasti bermain dengan anak. Memang pada awalnya saya sering dihampiri untuk diajak kumpul-kumpul, namun lama kelamaan mereka sudah hapal kalau saya hanya akan ikut kumpul sekali-kali saja. Kalau dihitung-hitung seminggu paling banyak tiga kali. Tiga kali itu benar-benar tiga kali seminggu, misalnya kalau saya sudah kumpul pagi maka sorenya saya akan absen, sedangkan kalau pagi saya belum ikutan nimbrung, sorenya saya hadir. Kalau yang lain betul-betul pagi dan sore. 
Pernah suatu kali saya selama seminggu penuh tidak keluar karena ada buku yang sedang serius saya baca, saat itu saya punya target baca buku one day one book, alhasil hampir satu gang ibu-ibu mengunjungi saya semua karena mereka cemas saya sedang sakit, mereka tidak mendapati saya juga di tukang sayur karena saya belanjanya saat langit masih gelap. Alangkah terharunya saya mendapatkan perhatian seperti itu. Seumur hidup baru kali itu saya merasakan betul-betul rasa kekeluargaan yang mendalam walaupun kami bukan satu ayah satu ibu dan bahkan sebelumnya tidak saling kenal.  
kenangan masa kecil anak-anak di perumahan Paspampres

Yang paling mengharukan adalah tatkala listrik di rumah saya mati sedangkan suami sedang naik dinas dan pakde yang biasanya membetulkan listrik tidak berani membongkar boks meteran listrik karena illegal. Listrik mati sama artinya dengan tidak nyala air karena kami menggunakan sumur bor dan pompa air. Persediaan air di bak kamar mandi dan di tiga ember di dapur ternyata habis hanya dalam sehari.
Saat saya hendak minta seember air ke rumah tetangga, beliau merasa tak tega demi melihat perut saya yang besar karena sedang hamil tua anak kedua dengan tangan kiri menggandeng tangan si sulung dan tangan kanan menenteng ember.
“Sudah, Ibu di rumah saja, biar kami yang urus,” ujarnya. Saya menurut lalu kembali ke rumah.
Beberapa saat kemudian pintu rumah diketuk, ternyata ada beberapa bapak-bapak ditemani istri-istrinya membawa selang lumayan panjang.
“Yang mau diisi air di mana, Bu? Kamar mandi ya?” Tanyanya. Saya yang masih terheran-heran hanya mengangguk. Ditemani istrinya, bapak itu lalu menuju kamar mandi. Beliau memberi kode kalau sudah siap dan istrinya menuju pintu untuk memberi kode lagi pada tetangga di depan rumah. Tak lama air mengalir deras memenuhi bak kamar mandi saya. Saat itu saya baru menyadari kalau mereka sedang berbondong-bondong membantu saya memberi air.
Setelah bak kamar mandi penuh, kembali istrinya memberi kode untuk mematikan air.
“Yang mana lagi yang mau diisi air, Bu?” Tanya bapak itu lagi. Saya menunjuk pada tiga ember yang ada di dapur. Lagi-lagi sang istri memberi kode untuk menyalakan air. Ya Tuhan, malam itu saya bisa lega karena bukan hanya seember air saja yang saya dapat, tapi melimpah. Bukan air saja yang saya rasa melimpah, namun juga limpahan kasih sayang mereka kepada saya. Saya langsung menangis saat itu juga sambil tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.
Keesokan harinya saya baru tahu kalau semalam ada delapan rumah yang meminjamkan selang demi air itu sampai ke rumah saya, karena saat itu rata-rata di tiap rumah hanya memiliki selang berukuran pendek. Lagi-lagi saya terharu, terbayang kehebohan mereka menyambung-nyambungkan selang, tentulah bukan perkara mudah, apalagi kalau diameter selangnya sama atau berbeda jauh, tentu lebih sulit lagi. Saya bersyukur Tuhan menempatkan saya di perumahan ini.
Di samping cerita mengharukan, ada pula cerita lucunya. Di perumahan itu ada rutinitas mengaji setiap Kamis sore dan saat saya akan ke warung di hari Selasa sore ada seorang ibu yang kebetulan belum saya kenal terheran-heran melihat saya.
“Emang pengajiannya sekarang ganti hari, ya, Bu?” Tanyanya. Gantian saya yang bingung.
“Kayaknya nggak, deh, Bu, memangnya kenapa?” Tanya saya.
“Ibu habis pengajiankan?” Tanyanya lagi. Saya menggeleng.
“Saya mau  ke warung, Bu, bukan habis pengajian,” jawab saya.
“Lah, mau  ke warung kok pakai kerudung?” Tanyanya heran. Saya juga semakin bingung.
“Saya pakai kerudung sejak sekolah, Bu, jadi pengajian nggak pengajian saya tetap pakai,” jawab saya terkekeh, ibu itupun tertawa. Kamipun akhirnya berkenalan dan berteman akrab. Saat tahun 2001-an itu kerudung atau jilbab memang belum ngetren seperti sekarang, jadi masih banyak yang merasa janggal melihat orang memakai kerudung tapi kegiatannya di luar pengajian atau kegiatan keagamaan.
Yang lebih lucu lagi adalah saat ada seorang ibu langsung menawari saya kerokan, jamu masuk angin dan bahkan langsung membawakan minyak angin ke rumah saya.
“Ibukan lagi masuk angin, sini saya kerokin biar sembuh,” ujarnya sok tahu. Saya bingung.
“Saya nggak masuk angin, Bu,” jawab  saya.
“Lho tapi tadi ke warung kok pakai kaos kaki? Apa namanya itu kalau nggak masuk angin?” Ujarnya lagi. Ya Tuhan, ingin sekali saya tertawa sampai guling-guling, tapi tentu saja ditahan.
“Oalah, sejak saya pakai kerudung saya juga pakai kaos kaki, Bu,” ujar saya.
Beliau lalu bertanya-tanya lebih banyak lagi dan akhirnya saya berbagi ilmu agama padanya.
Ada keharuan, kelucuan namun tak luput pula ada pergesekan-pergesekan sesame warga perumahan, terutamanya antar ibu-ibu. Sebisa mungkin saya menghindar kalau hal itu sampai terjadi atau hampir terjadi, saya selalu ingat pesan suami agar saya menjaga pergaulan, maksudnya pergaulan yang sudah terbina dengan baik jangan sampai dikotori oleh hal-hal sepele yang bisa merusak kasih sayang. Dan kebanyakan yang saya temui memang hanyalah hal sepele dan remeh temeh yang sebenarnya bukanlah masalah tapi anehnya menjadi masalah. Contohnya adalah saat tidak kebagian tempe di bude sayur, hal itu pernah saya alami kala saya belanjanya kesiangan. Saya kaget kala ada seorang ibu berkata keras dan lantang karena melihat tempe di tangan saya, beliau berpendapat kalau tempe itu adalah haknya karena lebih dulu datang dibanding saya. Karena teringat pesan suami sayapun mengalah meskipun sebenarnya saya dongkol bukan main. Sebelah saya membisiki kalau ibu itu memang senang cari ribut, kalau pagi itu tidak ketemu saya, mungkin ibu tadi sudah bertengkar dengan yang lain hanya gara-gara masalah tempe.
Masih banyak perkara-perkara lain yang kalau saya ceritakan di sini mungkin akan menjadi berjilid-jilid judul novel. Yang pasti saya bangga menjadi seorang istri prajurit dan tinggal di perumahan yang sebagian besar berisi anggota dan keluarga prajurit juga. Ada kebersamaan dan ada kekeluargaan yang akan selalu saya rindukan sepanjang sisa umur saya.
Itu sedikit cerita saya selama 4 tahun tinggal di perumahan Paspampres Cileungsi Bogor.

Sabtu, 04 Maret 2017

Menjangkau yang Jauh

"Alhamdulillah akhirnya kita nyampe juga ya, Mi?" Seru anak-anak nyaris berbarengan saat kaki kami menginjak museum Tekstil Indonesia. Penat yang terasa selama naik turun angkutan kota, bis sampai taksi hilang sudah. Ada haru yang tiba-tiba menyeruak, bukan apa-apa, sudah hampir 2 tahun si sulung memintaku mengajaknya ke museum ini. Sejak kecil minatnya terhadap dunia perkainan sangat besar. Sejak TK dia cerewet sekali bertanya bagaimana kain dibuat, dari apa sampai mengapa batik hanya ada di Indonesia dan coraknya berbeda di setiap daerah. Menanggapi berbagai pertanyaan darinya saya hanya mengandalkan ensiklopedia seadanya dan paman Google, namun ternyata hal itu belum cukup. Saat tahu di Indonesia ternyata ada museum Tekstil, si sulung bersemangat sekali ingin ke sana, apalagi waktu browsing tidak banyak yang membahas tentang museum yang bangunan asalnya adalah rumah tinggal warga berkebangsaan Perancis pada akhir abad ke-19. Sayang sekali karena museum ini mempunyai visi dan misi untuk kebudayaan Indonesia, yaitu sebagai tujuan wisata dan edukasi pertekstilan pada masyarakat umum. Misi museum ini juga melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan budaya tekstil tradisional. Selain itu juga mengangkat citra dan apresiasi warisan budaya kain tradisional Indonesia. Museum ini juga melaksakan kegiatan pameran, penyuluhan, pelatihan, workshop dan edukasi kultural.
Semua anak-anakku betah jalan-jalan di museum Tekstil ini meskipun yang lebih betah si sulung, dia betul-betul memelototi satu-persatu kain-kain yang dipajang, batik-batik, alat-alatnya, dsb.
"Mi, kapan-kapan kita balik ke sini lagi, ya?" Pintanya. Saya hanya bisa mengiyakan.
Yah, jalan-jalan ke museum kali ini memang karena undangan blogger dan Honestbee, tapi saya boyongan sama anak-anak karena jauh hari sebelumnya sudah pernah merencanakannya.
Acara seru-seruan bareng hari itu bener-bener seru, ditambah demo masak dari resep dapur ayah jadi menambah keceriaan, terutama anak-anak. Tidak berhenti sampai di situ, pengalaman baru belanja menggunakan layanan Honesbee ternyata seru gila. Tak terbayangkan sebelumnya kalau belanja menggunakan layanan Honestbee semudah itu, padahal sebelumnya saya membayangkannya bakal ribet, lola, banyak syarat dan ketentuan, de el el, tapi ternyata mudah, ringan, tinggal pilih yang kita butuhkan, pilih waktu pengiriman, pilih metode pembayaran, beres. Tinggal duduk manis di rumah. Layanan ini saya rasa betul-betul menolong, kenapa? Karena seringkali kebutuhan pokok yang sedang kita perlukan tidak ada di sekitar kita, seringkali udah muter-muter supermarket, mini market sampai pasar tradisional tidak juga ketemu, dengan layanan Honestbee ini kita tinggal cari, ketemu, klik.
Hal terpenting lainnya adalah kita jadi gak lapar mata, membeli yang sebenarnya belum kita butuhkan, dengan adanya layanan Honestbee ini kita tahu yang betul-betul kita butuhkan apa saja karena posisi kita sedang di rumah. Dan yang paling unik sebenarnya adalah pilihan waktu pengantaran barang, seumur-umur saya belanja online baru kali ini ada opsi waktu pengantaran barang, jadi dua belah pihak masing-masing aman, karena ibaratnya sudah janjian.
Itu sekilas cerita jalan-jalanku ke Jakarta tanggal 26 Februari lalu dengan anak-anak, semoga secepatnya kami bisa piknik ke sini lagi.

Takwa dan Pengertiannya

Takwa itu sangat penting karena merupakan aset umat Islam dunia dan akhirat. Takwa juga sumber keselamatan dunia dan akhirat, kemenangan dunia dan akhirat dan juga perlindungan dunia dan akhirat.
Sejak dulu takwa inilah yang membawa bantuan Allah dam segala usaha ikhtiar umat Islam, terutama di kalangan para sahabat. Allah buka pintu hati manusia sehingga mudah menerima Islam dan mudah dalam perjuangan. Allah buka jalan untuk perkembangan Islam yang pesat. Allah buka jalan dengan didatangkan para pendukung yang mampu membangun umat. Allah datangkan rasa berani luar biasa kepada umat Islam dan rasa ketakutan yang amat sangat kepada penentang.
Di zaman para Tabiin yang mana golongan takwa masih banyak dari tahap pemimpin sampai rakyat biasa, maka Allah buka pintu ilmu pengetahuan dalam bidang kehidupan. Ketika Barat masih dalam era kegelapan, Islam justru sedang pesat berkembang dengan berbagai penemuan baru dalam ilmu pengetahuan.
Tapi semua itu telah berlalu dan sudah jadi fakta sejarah. Telah terjadi dan sudah menjadi fakta sejarah.

Minggu, 13 Maret 2016

TIGA KALI MELAHIRKAN DI TANGAN ANGGOTA PASPAMPRES



Setiap kelahiran anak selalu punya cerita, begitu pula denganku. Yang teristimewa adalah kelahiran anak keempat sampai keenam karena ditolong abinya yang anggota Paspampres.
Saat merasakan kontraksi anak keempatku, waktu menunjukkan jam tujuh malam. Saat shalat Isya aku sudah mulai merasakan mulas. Namun karena suamiku baru saja turun dinas, maka aku tak memberitahukannya. Sampai saat kontraksi sudah semakin menjadi dan sudah  tiga menit sekali, suamiku terbangun sendiri demi mendenger nafasku yang tersengal menahan sakit. Beliau langsung bangun dan siap-siap mengantarkanku ke bidan. Namun aku sudah tak tahan lagi, dan nekat mengejan. Suamiku yang kaget berusaha tenang menerima bayi saat aku mengejan kedua kalinya. Bayiku langsung menangis kencang di dekapan ayahnya. Sadar apa yang harus dilakukannya, suamiku memberikan bayi kami padaku.
“Inisiasi menyusui dini dulu, ya, aku mau masak air,” ujarnya. Dalam kondisi belum diapa-apakan, kudekap  bayiku, kuselimuti lalu kucoba memberi asi walaupun belum keluar airnya. Beberapa saat kemudian suamiku datang lagi dengan membawa teh manis hangat, baskom kosong, baskom berisi air hangat, sabun bayi, dan kotak P3K. Aku masih memberikan IMD saat suamiku berusaha memancing ari-ari agar segera keluar dari rahimku. Alhamdulillah tidak butuh waktu lama saat aku merasa mules lagi sampai ari-arinya keluar. Rupanya baskom kosong itu dipakainya untuk wadah ari-ari. Setelah itu dia meminta bayinya untuk dimandikan. Aku tidak begitu memperhatikan apa saja yang dikerjakannya, yang pasti adek bayi sudah diserahkannya lagi padaku dalam kondisi bersih, wangi dan rapi dengan balutan bedong.
“Ari-arinya dipotong siapa?” Tanyaku heran.
“Ya dipotong abinyalah,” sahutnya tenang. Aku takjub. 
Suamiku lalu membereskan semuanya malam itu juga, bahkan menguburkan ari-ari sekalian. Selesai beres-beres jam setengah empat pagi, lanjut dengan qiyamul-lail. Setelah Subuh beliau menggendongku ke kamar mandi, air hangat sudah disiapkannya.
Saat melahirkan anak kelima beda lagi ceritanya. Aku sudah merasa kontraksi sejak seminggu sebelumnya, anehnya setiap sudah jam 12 malam, tiba-tiba kontraksinya langsung raib berganti rasa kantuk, padahal selama seminggu itu pula suamiku sengaja mengambiul cuti tahunan demi mantengin istrinya karena tidak mau kecolongan lagi seperti saat anak keempat.
Sore itu menjelang Maghrib tiba-tiba saja hujan turun deras. Aku sudah seminggu lewat hpl, dan sore itu aku sudah tak sanggup lagi saat mau siap-siap salat Maghrib. Suamiku ingin membawaku ke bidan, namun hujan tak juga reda. Saat adzan Maghrib berkumandang, rasanya aku sudah ingin mengejan, namun suamiku mengelus perutku sambil bilang,” sabar ya, jangan keluar dulu, tunggu Abi selesai salat dulu, ya?” Benar saja, setelah suamiku menuntaskan doa setelah salat, kembali rasa ingin mengejan menyerangku. Debaypun lahir setelah abinya siap menyambutnya.  
Masih dua minggu dari hpl saat kehamilan anak keenamku, namun malam itu aku sudah mulai merasa mulas setelah shalat Isya. Kupantau rasa mulasku yang jaraknya mulai mendekat.
“Mudah-mudahan bisa lahiran pas hari Pahlawan, ya, mas?" Candaku pada suami.
"Hari Pahlawankan besok?" Sahut suamiku.
Aku masih belum juga berani bilang, apalagi melihat kelelahan di wajah suamiku dan besoknya beliau harus berangkat jam empat pagi untuk upacara. Pikirku, iya kalau aku beneran mau melahirkan, kalau nggak kan kasihan suamiku.
Saat itu tanggal 9 November 2014, pukul sebelas malam kontraksi sudah lima menit sekali. Kulirik suamiku yang terlelap. Lagi-lagi aku ragu hendak membangunkannya. Sampai sekitar jam setengah duabelasan, suamiku terbangun dan mendekatiku.
"Kenapa belum tidur? Apa yang dirasakan?" Tanyanya. Aku hanya menggeleng, aku sudah tidak sanggup lagi bicara.
"Kenapa, Dek? Mules, ya? Udah kerasa mau lahiran?" Tanyanya lagi. Lagi-lagi aku hanya menggeleng.
"Aku mau buang air," jawabku menahan sakit, baru tiga langkah menuju kamar mandi, aku sudah tidak sanggup.
"Ayo kita ke bidan," suamiku memapahku kembali ke tempat tidur. Aku menggeleng.
"Kugendong, ya? Atau bidannya kupanggil ke sini," ujarnya lagi. Aku menggeleng karena memang sudah tak kuat menahan sakit. Suamiku yang penasaran memeriksa perut dan bagian bawahnya,"tuhkan sudah berdarah, sudah keluar darah, kamu sudah akan lahiran, ayo kita ke bidan!” Ujarnya panik. Aku tak sanggup menjawab, malah tiba-tiba saja ada keinginan kuat untuk mengejan, kontraksi yang kurasakan sudah tak terbendung lagi.
Akhirnya, setelah dua kali mengejan suara tangisan bayi terdengar keras sekali. Kami sama-sama tak menyangka kalau lagi-lagi harus menghadapi kelahiran di rumah tanpa ada orang medis.
 
  
Bottom of Form




Senin, 15 Juni 2015

Mi Nikmat dan Sehat itu Mi Tropicana Slim

Mi instan bukan saja enak dalam penyajian karena praktis, namun juga nikmat di lidah dan membuat hampir semua orang yang pernah mencicipinya ketagihan. Mi yang diciptakan oleh Momofuku Ando ini tidak saja disukai oleh orang dewasa, namun juga anak-anak dan remaja, bahkan anak kos sangat identik dengan mie instan.
Salah satu makanan favorit orang Indonesia adalah mi instan, jadi bisa dipastikan hampir setiap orang pernah mencicipi mi instan atau mempunyai persediaan mi instan di rumah. Tak jarang pula ada yang membawa mie instan ketika bepergian ke luar negeri sebagai persediaan kalau-kalau di negara tujuan tidak menemukan makanan yang pas di lidah.
Kalau saya pribadi, sejak saya kecil ibu saya tidak pernah menyediakan mi instan di rumah, alasannya karena ibu bisa membuatnya sendiri. Sampai saya SMA, barulah saya kenal dengan mie instan ini, gara-garanya kelaparan saat belajar kelompok di rumah teman. Akhirnya bikin ketagihan sampai kuliah dan berumah tangga.
Saat sudah punya anak, saya memutuskan stop makan mie instan, saya khawatir anak-anak jadi ketagihan, yang paling saya khawatirkan adalah kandungan lemak tinggi pada mie dan garam sodium dalam jumlah tinggi pada bumbu. Sodium inilah yang perlu dicermati karena asupan sodium sebaiknya tak melebihi 300 mg per sajian, seperti pernah dijelaskan oleh Prof. C. Hanny Wijaya, Food Science Expert dan Head of Food Chemistry Division IPB. Tekad itu kami canangkan bersama, namun rupanya suami sulit sekali diajak kerja sama, pulang dinas masih saja suka bawa oleh-oleh mie instan. Tombo pengen, begitu katanya. Akhirnya kami sekali-sekali masih makan mie instan, curi-curi kesempatan kala anak-anak sedang tidur. Namun lama-kelamaan aksi itu ketahuan juga. Aromanya yang mengundang malah membuat anak mereka bangun.
Merengek minta mie malam-malam membuat saya terpaksa menuruti keinginan anak-anak meskipun dengan sangat terpaksa, hingga akhirnya saya menambah sayur dan telor ke dalam mie instan tanpa bumbu, hanya memberikan minyak ditambah garam dan kecap saja ke dalamnya.
Beranjak semakin besar, anak-anak sudah pintar bikin mie instan sendiri. Khawatir? Tentu saja, dampak dari terlalu tingginya kandungan garam, lemak dan kalori membuat saya takut berdampak buruk pada kesehatan mereka. Mie instan juga tak cukup memiliki kandungan vitamin, mineral atau serat yang bermanfaat bagi tubuh.
Dampak buruk yang sudah terlihat nyata adalah pada perubahan bentuk badan suami saya. Perutnya semakin lama semakin mengembang, padahal beliau disiplin sekali berolahraga. Itu dampak buruk jangka panjang, sedangkan dampak buruk jangka pendeknya sebenarnya juga sudah kami rasakan, yaitu perut serasa beugah, seperti terasa kembung atau penuh yang sama sekali tidak nyaman, rasa di mulut juga berubah agak pahit jika mie instan di mangkok sudah tandas. Kalau suami saya memang termasuk sensitif pencernaannya, hingga hanya dalam hitungan beberapa menit saja setelah makan mie instan, pasti perutnya akan memaksanya untuk ke belakang.  Perenungan kami soal mie instan ini akhirnya membuat kami sekeluarga sepakat mengatur ulang pola makan dan stop makan mie instan.
Apakah bisa benar-benar stop? Ternyata tidak! Godaan makan mie instan selalu saja ada, bukan hanya pada saya dan anak-anak, namun juga pada suami, apalagi kalau sedang dinas. Aroma mie instan yang diviruskan dari teman-temannya membuat suami saya lupa dengan tekadnya untuk berhenti melirik mie instan. Bertemu dengan mie instan serasa dunia begitu indah saking nikmatnya. Jadi bisa dibayangkan, betapa tersiksanya hari-hari kami ‘puasa’ dari mie instan.
Tersiksa? Tentu saja, apalagi suami saya yang paling susah melawannya, kalau beliau pulang dinas  dengan jujur cerita pada saya kalau sudah melanggar. Makanya suami saya begitu gembira kala mengetahui ada mie instan yang sehat, Mi Kering Tropicana Slim yang sangat aman dan sehat dikonsumsi siapapun, bahkan untuk orang yang sedang menderita penyakit tertentu memang layak dicoba. Saya sudah perhatikan papan gizi dalam kemasannya, ternyata berbeda sekali dengan mi biasa.
kemasannya eksklusif


Tropicana Slim Less Fat Noodles memiliki kadar lemak yang lebih rendah sehingga membantu menjaga berat badan. Hal ini bisa dibuktikan dengan perbedaan air hasil dari perebusa mie itu sendiri. Penyebabnya adalah karena mie instan biasa dimasak dengan cara digoreng, sedangkan Tropicana Slim dipanggang. Kandungan berbahaya dalam mi instan biasa didapatkan dari proses pengolahan sampai proses pengawetan yang dilakukan dengan cara menggoreng mi sampai kering. Proses penggorengan menggunakan minyak goreng yang membuat air rebusan menjadi keruh dan agak berminyak ketika direbus. Berbeda sekali dengan air rebusan mi Tropicana Slim yang jernih karena proses pembuan mi Tropicana Slim bukan digoreng melainkan dipanggang. Makanan yang lain saja lebih sehat dipanggang daripada digoreng bukan?  
Mi Tropicans Slim yang yummi

Bagaimana soal rasa? Awalnya sempat ragu, karena biasanya yang sehat-sehat untuk tubuh itu belum tentu cocok di lidah. Namun ternyata keraguan kami tak terbukti. Suami saya menghabiskan mie Tropicana Slim dengan puas dan lega, begitu pula dengan saya dan anak-anak. Ya, karena tidak ada perasaan berdosa itu juga mungkin ya, yang membuat rasa mie Tropicana Slim malah lebih enak dibanding mie instan biasa menurut kami. Yang lebih melegakan adalah efek yang seharusnya langsung terasa kalau semangkuk mie  Soal harga memang jauh di instan sudah berpindah ke perut, yaitu rasa beugah dan rasa tidak enak di mulut. Nyatanya kami bebas dari masalah itu, keluhan di perut dan mulut tak ada dalam mie Tropicana Slim Less Fat Noodles. Soal harga memang jauh di atas rata-rata mi biasa, tapi apakah kita akan menawar-nawar harga kalau sudah berhubungan dengan kesehatan? Tentu tidak bukan?